Menemukan Cinta : Babak Pertama (Jumpa)


BABAK I

JUMPA

               
Jumpa adalah mula dari setiap kisah
Sedikit merona merah awalnya
Mencoba mencari tahu sesuatu yang membuat gelisahnya hati
Ya, namamu, siapa kamu ?

Kita hanya terhelat beberapa meja hari itu
Delapan meter terpisahkan jarak
Tapi aku masih saja malu
Payah, ternyata tak semudah itu

Kuperhatikan tawa yang selalu terlukis diwajahmu
Lirikan bola-bola berkornea yang tajam dan tegas itu
Suara yang keluar dari bibir tipis terbalut merahnya gincu
Aaahhhhhhh!!! Tak bisa kupungkiri, Tuhan adalah seniman yang luar biasa

Terlalu lama aku menikmati
Tak disangka apa yang ada didepanku mulai beranjak pergi
Aku mencaci maki diri ini
Takutku mengalahkan berani



               

28 Oktober 2018
Namaku Laskar, pemuda biasa-biasa saja yang saat ini sedang menempuh pendidikan di salah satu kampus swasta di kota Yogyakarta. Bermimpi menjadi seorang seniman, tapi mengambil jurusan Perhotelan, hahaha lucu juga ya. Oh iya, sajak diatas yang kalian baca tercipta baru saja. Berselang beberapa menit yang lalu, ketika aku sedang berada disalah satu kedai kopi sembari memaksa pena mencumbu kertas yang tak berbaris. Benar, hobiku adalah menulis, tentang apapun itu. 

           Ketika sedang melamun memikirkan tentang apa yang akan kutuliskan dengan kertas bersama pena. Tiba-tiba fokusku tertuju pada seorang wanita dimeja seberang. Entah apa yang membuatku terpesona, cantik ? menurutku semua wanita itu cantik, jadi itu bukan alasan yang tepat. Mungkin dia membawa pesona tersendiri, entah apapun itu. Ingin sekali aku sekedar menyapa dan bertanya nama, tapi nyaliku tak sebesar itu.

            Satu jam lamanya aku hanya menikmati dia yang sedang bercengkrama, sesekali bersuara dan tertawa. Sembari menjadikannya inspirasi, ternyata aku mulai jatuh hati. Entah hanya perasaan sementara atau memang benar-benar cinta. Terlalu asik menghayal tentangnya, tentang kami berdua. Dia mulai beranjak pergi, hanya meningalkan sajak “Jumpa” dan secangkir kopi bertuliskan nama pemesan dengan sedikit ampas tersisa didalamnya.

“ oh iya, kan digelas kopi yang dia minum ada namanya.” Aku berbicara pada diriku sendiri.
            Kemudian aku berfikir bagaimana caranya aku bisa mendapatkan gelas itu, sebelum didahului oleh pegawai café ini.

           Dengan cepat aku beranjak dari tempat dudukku menuju meja si wanita itu. Sedikit berlari aku dibuatnya, karena dari arah berlawanan mas-mas pegawai café ini juga sepertinya siap untuk membereskan mejanya. Kita sampai diwaktu yang hampir bersamaan.

         Melihat mas-mas café sudah mulai membereskan meja, aku langsung mencoba untuk berbicara.
             “ Permisi mas. “ Sapaku dengan sopan
          “ Oh iya ada apa mas ? ada yang bisa saya bantu ?” mas-mas itu dengan sigap merespon sembari menghentikan pekerjaannya.
            “anu mas jadi begini, saya kan sedang memerlukan beberapa cangkir bengkas untuk kerajinan tangan, jadii kira-kira saya boleh ngga minta beberapa cangkir itu ?” Aku mencoba mencari alasan yang tepat dibarengi dengan jempolku yang menunjuk kearah cangkir-cangkir itu.
            “ohhh, tentu saja boleh mas, segini cukup ? atau perlu saya ambilkan lagi dibelakang?” jawab masnya dengan tersenyum
             “ngg, nggak usah mas, segini cukup kok”
              Lalu kuambil beberapa cangkir itu, kumasukkan kedalam tas, kecuali milik si wanita tadi.
              “Terima kasih banyak mas” ucapku sambil berjalan menuju pintu keluar. Aku merasa senang sekali, hanya dengan mengetahui namanya sudah membuatku merasa begini. Terlalu senang dan sudah tak sabar untuk mencari tahu nama sang wanita itu di sosial media membuatku tak mampu mendengar suasana sekitar, apakah mas-mas tadi merespon ucapan terima kasihku atau tidak? ahh bodo amat, aku ingin cepat pulang.

NAMANYA…

Namanya Kinasih
Berarti “yang terkasih”
Tertulis dicangkir kopi bekas yang membawa pergi rasa risauku kemarin
Lega rasanya


Bermodalkan nama dan ingatan tentangmu kemarin
Aku sudah bisa membuat cerita tentang kita
Tentang bagaimana nanti kita bersama
Terlalu gila rasanya
Berbicara saja tak pernah
Tapi,
Liar sekali imajiku saat ini

Masih jelas suara samarmu saat itu
Sedikit berat namun membuatku selalu ingat
Rambut tergurai lepas
Tawa tak terlalu keras
Sial,
Aku penasaran denganmu

Kinasih…
Tunggu aku
Aku akan menjemputmu

                29 Oktober 2018
                Bermodalkan cangkir bekas dengan tulisan namanya, segera saja kubuka laptopku. Dengan cepat aku membuka berbagai sosial media, Instagram, twitter, dan tak lupa pula facebook. Kuketikkan namanya dipapan keyboardku, kutekkan enter dengan cepat tanpa ragu-ragu. Hasilnya ? nihil. Kuperhatikan satu-persatu akun yang muncul, namun, tak ada satupun yang sesuai dengan wanita itu.
                Hampir empat jam aku didepan laptop, mencari dan terus mencari. Tak peduli besok ada mata kuliah pagi, rasa penasaranku lebih besar daripada rasa takutku untuk dicaci maki dosen. Waktu menunjukkan pukul 02.36 dini hari, dan masih belum ada hasil. Apa selamanya aku hanya akan tau namanya ? sial, dia terlalu indah untuk kulewatkan begitu saja.

                Adzan shubuh berkumandang, membangunkanku yang tertidur didepan layar laptop yang masih menyala. Aku berharap kejadian sebelumnya hanyalah mimpi sehingga aku tak akan terlalu menyesal apabila tak menemukannya, tapi aku salah. Dia nyata.

              Siapa kamu ? aku tak puas jika hanya mengetahui namamu. Aku sudah mengetahui namanya, wajahnya, dan aku telah berusaha. Apa ini sia-sia ?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi : Kau Tahu?

Sekumpulan Kata bagian II

Puisi : Ilusi