Menemukan Cinta : Babak Kedua ( Sapa )


BABAK II

SAPA

Ketika aku sudah hampir melupakanmu
Kau tiba-tiba datang
Meski kutahu bahwa kau datang bukan untukku
Hahaha, tentu saja
Kita kan belum saling mengenal

Pesonamu masih saja sama
Masih membuat tubuh ini terpana
Aku akan menyapamu kali ini
Tunggu saja

                03 November 2018
                Sudah hampir dua minggu sejak kejadian yang lalu, yang hanya mendapatkan nama dengan sedikit ingatan rupanya kala itu. Aku hampir benar-benar melupakannya, mungkin hanya riwayat pencarian dilaptopku yang masih tersisa dan setia mengingatnya.

                Aku kali ini sendiri, lagi-lagi sendiri. Duduk didepan laptop sembari menikmati kopi susu yang sedari tadi baru kuminum tiga tegukkan. Ditempat yang sama, ditempat duduk yang sama seperti saat pertama kali aku melihatnya. Atau yang pertama dan terakhir kali ?

                Sembari menulis, aku juga menonton video tutorial color grading. Entah kenapa aku sedang semangat belajar mengenai video. Sedang asyik menulis dan sesekali menonton, aku dikagetkan oleh suara seorang wanita dibelakangku.
                “Permisi mas…”
                Aku menoleh,
                “Iya? Ada apa mbak? Kinasih?" Aku tertegun, iya benar dia adalah wanita itu, dan dengan bodohnya aku menyebut namanya.
                “hah?” dia merespon dengan sedikit terkejut
                “ohh, nggak nggak. Gimana mbak ada apa ya ? jawabku dengan cepat, berharap dia tidak terlalu mendengar perkataanku yang sebelumnya.
                “Ini mas, kunci punya mas kan ?” sembari memberikan kunci motor
                “Tadi jatuh dibelakang masnya” lanjutnya
                “I..iyaa benar punya saya mbak. Makasih ya” sambutku
                “Kita pernah ketemu sebelumnya?” Tanyanya tiba-tiba
Deggg, mampus fikirku, ternyata dia mendengarnya, aku berfikir mencari alasan yang tepat
                “kenapa gitu?” tanyaku balik
                “ya kan tadi masnya nyebutin nama saya”
                “ohhh itu, anuuu,” mataku tertuju pada cangkir kopi bertuliskan Kinasih
                “itu kan ada namanya mbak, dicangkir” sembari menunjuk cangkir kopi digenggamannya
                “ohhh…” jawabnya singkat
                “Laskar..” kataku sembari menjulurkan tangan
                “ohh iya, Kinasih” ia tersenyum tipis tapi manis

Akhirnya aku menyapa ketika jumpa. Kuharap bukan untuk yang terakhir kali, sebab aku sudah menunggu ini sejak lama. Aku ingin mengetahui lebih banyak hal tentang dia. Sebab, sekadar nama tak membuatku bahagia. Aku akan bahagia ketika aku memilikinya. Sapa, selesai.
               

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi : Kau Tahu?

Sekumpulan Kata bagian II

Puisi : Ilusi